Loading...
DHASAM.co id - Batu Bara
Rasa sedih mendalam menyelimuti hati Fauziah (35) dan keluarganya. Warga kelurahan Labuhan Ruku, kecamatan Talawi, kabupaten Batu Bara, Sumatera Utara itu tak kuasa menahan air matanya saat menyaksikan bangunan rumah yang telah menjadi tempat berteduh puluhan tahun bersama keluarga tercinta, kini harus rata dengan tanah karena dirubuhkan, Jumat (08/05/2026).
Rumah itu bukan sekadar bangunan, melainkan saksi bisu berbagai kenangan, tempat ia membesarkan anak, dan tempat berkumpul bersama orang terkasih selama bertahun - tahun lamanya. Rumah yang menjadi kediaman Fauziah itu terpaksa dibebaskan karena lokasi tersebut rencananya akan digunakan oleh pihak kelurahan labuhan ruku untuk pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Meski memahami rencana pembangunan tersebut untuk kepentingan umum, namun hati Fauziah terasa hancur lebur. Ia tak pernah membayangkan, tempat yang selama ini menjadi pelindung dari panas dan hujan, kini hilang begitu saja di depan matanya, tanpa dapat menahannya sedikit pun.
Sebagai ganti rugi atas pembebasan lahan dan bangunan yang ia tinggali, Fauziah hanya menerima uang sebesar Rp.1.500.000. Jumlah itu terasa sangat jauh dari harapan, bahkan tak sebanding dengan nilai kenangan dan kenyamanan yang hilang. Dengan uang sejumlah itu, Fauziah dan seluruh anggota keluarga yang tinggal bersamanya kini kebingungan, tak tahu harus pergi ke mana dan di mana mereka akan menumpahkan kepala malam hari.
Di rumah itu, Fauziah tinggal bersama suami, anak - anak, juga mertua yang sudah lanjut usia. Kehidupan keluarga mereka memang sederhana dan serba kekurangan. Suaminya hanya bekerja serabutan, penghasilannya tak menentu, hanya cukup untuk makan sehari - hari jika sedang ada pekerjaan. Belum lagi beban pengeluaran harian yang tak bisa ditunda, karena ia memiliki anak yang masih berusia bayi dan harus rutin membeli susu setiap hari demi kesehatan sang buah hati.
Bagi keluarga kecil ini, uang ganti rugi Rp.1,5 juta itu rasanya bagai setetes air di tengah padang pasir. Uang itu bahkan belum cukup untuk menyewa tempat tinggal sementara dalam waktu lama, apalagi untuk membangun kembali rumah baru. Fauziah hanya bisa menatap kosong sambil menahan tangis, memikirkan nasib mertua yang sudah tua, serta anak - anak yang kini tak lagi memiliki tempat bermain dan beristirahat yang layak.
Tak ada daya lain yang bisa dilakukan, Fauziah dan seluruh keluarganya akhirnya hanya bisa pasrah menerima keadaan pahit ini. Ia tak berani menuntut lebih banyak, dan tak memiliki kekuatan untuk menolak keputusan yang sudah ditetapkan. Ia hanya bisa menunduk, berdoa, dan berharap ada kebaikan hati dari para pejabat, terutama Bupati Batu Bara, untuk mendengarkan jeritan hati keluarga kecilnya yang kini tinggal beratapkan tenda biru tempat berteduh.
Fauziah mengaku sangat berharap ada uluran tangan dan perhatian khusus dari pemerintah daerah. Ia memohon agar keberadaan keluarganya tidak dilupakan di tengah proses pembangunan gedung KDMP. Ia tidak meminta kemewahan, hanya sekadar tempat tinggal yang layak dan aman, agar anak - anaknya tetap bisa tumbuh besar dengan tenang, serta mertuanya bisa beristirahat dengan nyaman di sisa usianya.
Hingga kini, Fauziah dan keluarganya masih berdiri termenung di pinggir lokasi, membawa barang - barang sisa yang masih bisa diselamatkan, menatap puing - puing bekas rumahnya. Di tengah keterbatasan dan kesedihan yang mendalam, satu-satunya yang tersisa hanyalah harapan pada kebijaksanaan pemerintah, agar nasib mereka yang kini tak bertanah dan tak beratap segera mendapatkan solusi yang layak dan adil.
(Dharma Samosir)